Dampak Negatif Belanja Online Masa Kini

ilustrasi orang berbelanja online
Dampak Negatif Belanja Online Masa Kini. Photo by Pexels
Bagikan:

Waktu baca: 4 menit

Seiring perkembangan teknologi, belanja online menjelma sebagai kebiasaan masyarakat di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Apalagi saat ini tengah dalam musim pandemi Covid-19 dan membuat banyak orang lebih sering menghabiskan waktu di rumah karena memang dianjurkan demikian. Cara memenuhi kebutuhan sehari-hari pun dilakukan secara online.

Belanja online merupakan kegiatan jual beli barang dan jasa dengan perantara media internet, di mana proses penjualan dilakukan lewat transaksi secara vitual. Belanja online juga kerap kali disebut e-commerce, melalui itu pembeli atau konsumen hanya perlu mencari dan memilih barang yang harganya sudah ditentukan, setelah itu tinggal membayar lewat transfer.

Perkembangan bisnis ini sangat pesat di Indonesia, hal itu juga berdampak pada peningkatan yang didapat sekitar 8,8 persen setiap tahunnya. Sama seperti tradisional, e-commerce hanya menjadi pihak ketiga dalam transaksi jual-beli antara penjual dan pembeli. Belanja online merupakan bentuk perkembangan serta perubahan yang disajikan oleh internet.

Dari segi inovasi, berbelanja yang di dalamnya disediakan berbagai macam kemudahan yang dapat dirasakan. Adanya perkembangan ini juga tidak lepas dari munculya kemajuan zaman atau biasa yang disebut dengan globalisasi. Belanja online sudah menjadi kegiatan yang digemari masyarakat, yang tanpa disadari menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat itu sendiri.

Baca juga: 4 Solusi Cerdas Kontrol Belanja Bulanan Biar Kantong Aman

Mengganggu Kestabilan Keuangan

Ilustrasi uang koin
Kestabilan keuangan terganggu. Photo by Pixabay

Keuangan merupakan hal yang krusial dalam kehidupan, bagi masyarakat yang gemar berbelanja online diharapkan untuk bijak. Belanja online yang dilakukan untuk mengisi waktu secara rutin adalah musuh utama dalam perencanaan keuangan. Bahkan secara tak sadar, kebiasaan ini bisa menggangakan perencanaan financial dalam mencapai goals.

Cara mencegah kondisi ini salah satunya dengan menyusun daftar barang yang dibutuhkan kemudian dibeli. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah memang membutuhkan barang yang sedang dilihat apabila muncul keinginan untuk membelinya. Jika muncul, sudah saatnya untuk benar-benar mengontrol perilaku tersebut dalam hal berbelanja online.

  • Tak Sesuai Ekspektasi

Belanja online tak selalu memuaskan pembeli akan kualitas barang yang dibeli, ketika belanja di online shop pembeli hanya diperlihatkan barang lewat sebuah foto dengan deskripsi berupa tulisan. Dalam hal ini pembeli harus cermat dan mengetahui poin-poin penting mana yang dipercaya dan berdampak pada kualitas barang.

Sering kali pembeli dibuat kecewa karena kualitas barang yang dibeli tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Dan bahkan hal ini memunculkan fenomena, dimana pembeli melakukan protes terhadap kurir yang notabene tugasnya hanya mengantarkan barang ke pembeli. Tentu hal ini menjadi kerugian, bukan hanya bagi pembeli tetapi juga pihak lain.

  • Beli Barang Tak Dibutuhkan

Tanpa disadari orang melakukan belanja online tak hanya membeli barang yang dibutuhkan, dengan berbagai kemudahan dan penawaran diskon atau potongan harga yang menarik, pembeli bisa saja membeli barang karena tertarik dengan harga yang ditawarkan. Kondisi ini bisa membuat pembeli menjadi impulsif dan membeli banyak barang yang notabene tidak dibutuhkan.

Atas dasar lapar maa, seseorang bisa secara menggila membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Mulai dari peralatan pribadi hingga untuk rumah atau yang lainnya, jangan hanya karena keinginan semata menyebabkan kondisi keuangan membengkak dan bahkan amburadul serta menimbulkan banyak kerugian.

  • Rawan Penipuan

Belanja online sudah menjadi hal lazim disertai dengan toko online yang menjamur di seluruh dunia termasuk Indonesia. Sebuah kondisi yang berpotensi memunculkan penipuan terhadap para pembeli, banyak oknum yang mengincar pembeli dengan keterbatasan pemahaman soal belanja online dan hal ini mewajibkan orang untuk berhati-hati.

Pembeli harus memastikan bahwa toko online yang menjual barang memang terpercaya dan produk yang dijual memiliki review yang baik. Kebanyakan kasus penipuan yang dialami konsumen atau pembeli adalah sudah membayar lewat transfer namun barang yang dibeli tak kunjung datang sesuai dengan estimasi kedatangan.

  • Tak Bisa Langsung Pakai

Bagi pembeli di toko online, satu hal yang menjadi kerugian yang wajib ditanggung adalah tak bisa langsung memakai barang yang dibeli. Karena memang tak ada bentuk fisik saat membeli, barang yang dibeli butuh waktu untuk diantarkan ke kediaman pembeli. Tentunya waktu yang dibutuhkan ini memiliki jeda tak hanya satu atau dua hari, tetapi bisa berhari-hari.

Bahkan bagi pembeli yang tak sengaja menjadi korban penipuan, barang yang sudah dibeli tak juga diantarkan setelah melebihi estimasi waktu pengiriman. Terdapat berbagai risiko yang bisa dialami pembeli, seperti barang yang dibeli tertahan, paketan datang terlambat hingga paketan yang dikirim ternyata salah alamat.

  • Barang Asli atau Tiruan

Sejatinya kemunculan toko online adalah untuk mempermudah pembeli dalam menemukan barang yang dibutuhkan tanpa harus keluar rumah. Namun, pembeli juga harus menerima kenyataan bahwa mereka tak bisa membedakan barang yang dijual itu asli atau tiruan. Dalam hal ini kecerdasan dan ketelitian pembeli benar-benar menentukan.

Sering kali pembeli tidak mengecek informasi lebih detail terkait barang yang dibeli dan hanya fokus pada harga. Harga miring pada barang yang dicari membuat pembeli tak segan segera membelinya tanpa mengetahui barang tersebut asli atau tiruan, sehingga justru menjadi kerugian bagi pembeli karena barang yang dibeli tak sesuai dengan ekspektasi.

  • Rentan Pembobolan Rekening

Salah satu kemudahan belanja online adalah pembayaran, karena pembeli tak perlu keluar rumah untuk membayar barang yang dibeli dari toko online. Cukup menggunakan transfer dan proses pembayaran pun terselesaikan, namun pembeli juga harus menyertakan atm mana yang digunakan sebagai alat pembayaran, tak sedikit pula yang menggunakan kartu kredit.

Penggunaan kartu kredit inilah yang rawan dibobol, banyak pencuri kreatif menggunakan kecerdasannya untuk membobol kartu kredit dan atm dari pengguna toko online. Mengingat saat ini toko online juga dilengkapi dengan saldo yang isinya pun tak sedikit. Terlebih ketika memasuki masa diskon besar-besaran.

Penipun Belanja Online

ilustrasi adanya penipuan.
Penipuan belanja online. Photo by Pixabay

Berniat mencari kemudahan dalam berbelanja, pembeli bisa jadi malah menjadi korban dari belanja online. Belanja online tak selamanya menguntungkan bagi pembeli karena banyak penjual yang justru memanfaatkan bisnis online sebagai ladang tindak kejahatn. Berikut ini beberapa cara melaporkan tindak kejahatan penipuan belanja online.

  • Cek Nomor Rekening

Pengecekan nomor rekening dapat dilakukan di cekrekening.id, cek apakah rekening penjual terdaftar dalam tindak kejahatan atau tidak. Jika ada segera laporkan ke polisi atau jangan lanjutkan proses pembelian.

  • Lapor Polisi

Datang ke bagian SKT atau Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu guna melaporkan kejadian penipuan belanja online. Sertakan bukti berupa p[ercakapan dengan penjual dan bukti transfer, setelah itu tunggu proses penyidikan pihak kepolisian.

  • Lapor ke Lapor.go.id

Merupakan situs yang dikembangkan pemerinta Indonesia untuk menampung aspirasi dan keluhan masyarakat. Tuliskan keluhan dengan jelas, tunggu hingga lima hari ke depan, bagaimana proses investigasi dilakukan setelah itu bisa dilaporkan ke kepolisian guna memperkuat proses pencarian penipu belanja online.


Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai