Cara Menghitung Biaya Penyusutan dengan Benar

Cara Menghitung Biaya Penyusutan
Cara Menghitung Biaya Penyusutan dengan Benar. Photo by Pexels
Waktu baca: 4 menit

Kamu memiliki aset, pasti kamu tahu aset akan mengalami penyusutan? Sudahkah kamu tahu caranya untuk hitung biaya penyusutan? Jika belum, simak pembahasan berikut ini mengenai cara menghitung biaya penyusutan yang bisa kamu lakukan.

Bagi kamu yang mempunyai bisnis atau perusahaan, pasti memiliki berbagai aset tetap atau aktiva tetap. Penggunaan aset tetap tersebut akan mengalami penyusutan atau pengurangan manfaatnya sehingga kamu perlu menghitung biaya penyusutannya.

Sayangnya, kamu masih belum begitu paham mengenai biaya penyusutan hingga cara menghitung biaya penyusutan? Simak pembahasan berikut ini mengenai biaya penyusutan (depresiasi) hingga cara menghitungnya sampai akhir ya!

Pengertian Depresiasi

Bagi kamu yang memiliki aset, pasti sudah tidak asing dengan biaya penyusutan. Meski begitu, sebelum membahas mengenai cara menghitung biaya penyusutan, sebaiknya kamu pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud biaya penyusutan?

Pengertian biaya penyusutan atau pengertian depresiasi adalah biaya yang timbul karena adanya penggunaan aktiva tetap (aset tetap) yang dipakai secara terus-menerus sehingga mengalami penyusutan manfaatnya.

Depresiasi menjadi biaya yang tidak bisa terhindarkan karena setiap aset tetap akan mengalami penyusutan manfaatnya. Jadi, kamu pun harus menghitung biaya penyusutan setiap tahunnya. Contoh depresiasi adalah bangunan, transportasi, alat mesin, dan lain sebagainya.

Hal-Hal yang Berpengaruh Terhadap Penyusutan

Kamu pun penasaran apa saja faktor yang mempengaruhi biaya penyusutan? Simak pembahasan berikut ini mengenai hal-hal yang berpengaruh terhadap penyusutan, di antaranya:

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Harga perolehan (acquisition cost) merupakan harga dasar perhitungan besar atau kecilnya depresiasi untuk dialokasikan ke suatu periode tertentu. Contoh harga perolehan adalah harga pembelian dari suatu aset, biaya pengiriman aset, pengadaan alat transportasi, dan lainnya.

2. Perkiraan Umur Ekonomis (Estimate Economical Lifetime of Asset)

Perkiraan umur ekonomis (estimate economical lifetime of asset) merupakan faktor yang bisa kamu ukur dengan adanya perkiraan dari umur atau berapa lama aset tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan.

Kamu harus mengetahui jangka waktu dari aset yang digunakan hingga sudah bisa digunakan lagi karena mengalami penyusutan manfaat.

Nilai penyusutan yang kecil akan memiliki umur ekonomis yang lebih lama. Sebaliknya, nilai penyusutan yang besar akan memiliki umur ekonomis yang lebih pendek.

3. Perkiraan Nilai Residu (Estimated Residual Value of Asset)

Perkiraan nilai residu (estimated residual value of asset) merupakan nilai yang dapat kamu realisasikan saat suatu aset dijual atau tidak lagi dipergunakan kembali.

Tak hanya itu, nilai residu juga bisa kamu dapatkan dari hasil penjualan, hasil sewa, maupun hasil dari pemutaran cara pemeliharaan. Sayangnya, apabila aset tersebut tidak memiliki nilai manfaatnya lagi sehingga tidak digunakan, maka nilai residunya tidak tinggi.

Baca juga: Dynamic Pricing Adalah: Manfaat Sampai Cara Penerapan

Manfaat Menghitung Depresiasi

Kamu pun bertanya-tanya, apa saja manfaat menghitung biaya penyusutan? Simak pembahasan berikut ini mengenai berbagai manfaat menghitung depresiasi yang bisa kamu dapatkan, di antaranya:

  • Kamu bisa mengurangi jumlah pajak yang akan dibayarkan perusahaan.
  • Kamu bisa membantu stakeholder dalam memahami biaya operasional perusahaan.
  • Kamu bisa mendapat data perolehan perusahaan dengan rapi.
  • Kamu bisa mengetahui nilai atau harga dari aset-aset tetap perusahaan.
  • Kamu bisa menekan risiko kerugian perusahaan.

Cara Menghitung Biaya Penyusutan

Sebelum membahas cara menghitung penyusutan, sudahkah kamu tahu biaya penyusutan masuk kemana? Biaya penyusutan masuk ke neraca. Jadi, akumulasinya bisa kamu masukkan di neraca dan kamu bisa menghitungnya.

Kamu ingin menghitung biaya penyusutan, tetapi masih bingung bagaimana cara menghitung akumulasi penyusutan? Ada beberapa metode dan rumus depresiasi yang bisa kamu gunakan sesuai kebutuhan perusahaan. 

Metode dan rumus di bawah ini akan menjadi cara menghitung biaya penyusutan perusahaan kamu. Simak pembahasan berikut ini mengenai cara menghitung biaya penyusutan yang bisa kamu lakukan, di antaranya:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line)

Metode garis lurus (straight line) adalah metode penghitungan penyusutan yang menggunakan asumsi fungsi waktu, bukan dari fungsi penggunaan. Namun, metode ini dinilai kurang akurat karena hasil penyusutan dari aset memiliki nilai yang sama di setiap periode.

Kamu pun bertanya-tanya, apa rumus dari metode penyusutan garis lurus? Ada dua rumus yang digunakan oleh metode garis lurus. Berikut ini akan dibahas mengenai dua rumus metode garis lurus yang bisa kamu gunakan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, di antaranya:

  • Menggunakan Nilai Residu

Apabila kamu ingin menggunakan nilai residu, maka rumus dari metode garis lurus, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = (Harga Perolehan – Nilai Residu) : Umur Ekonomis.

  • Tanpa Nilai Residu

Apabila kamu tidak ingin menggunakan nilai residu, maka rumus dari metode garis lurus, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = Harga Perolehan : Umur Ekonomis.

2. Metode Beban Menurun

Metode beban menurun adalah metode penghitungan penyusutan yang digunakan untuk menghitung biaya penyusutan yang lebih besar di tahun pertama, lalu semakin mengecil di tahun berikutnya.

Simak pembahasan berikut ini mengenai rumus dari metode beban menurun. Rumus metode beban menurun, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = Harga Beli Aset x Persentase Penyusutan.

3. Metode Aktivitas

Metode aktivitas adalah metode penghitungan penyusutan yang mendapatkan perhitungannya dari hasil produktivitas aset.

Penasaran dengan cara menghitung biaya penyusutan menggunakan metode aktivitas? Ini rumus metode aktivitas, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = [(Biaya Perolehan – Nilai Residu) x Estimasi Umur Penggunaan] : Umur Produktif.

4. Metode Saldo Menurun Ganda

Metode saldo menurun ganda adalah metode penghitungan penyusutan yang menggunakan persentase penyusutan yang besarnya dua kali, lalu harga buku dari aset tetap.

Kamu penasaran dengan cara menghitung biaya penyusutan dari metode saldo menurun ganda? Berikut ini rumus metode saldo menurun ganda, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = [2 x (100% : Umur Ekonomis)] x Harga Buku Aktiva Tetap.

5. Metode Satuan Jam Kerja

Metode satuan jam kerja adalah metode perhitungan penyusutan yang beban penyusutan aset tetap ditentukan berdasarkan jumlah satuan jam kerja.

Kamu penasaran dengan rumus dari metode satuan jam kerja? Berikut ini akan dibahas mengenai rumus metode satuan jam kerja, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = (Biaya Perolehan – Nilai Residu) : Jumlah Total Satuan Jam Kerja Penggunaan Aset Tetap.

6. Metode Hasil Produksi

Metode hasil produksi adalah metode perhitungan penyusutan yang beban penyusutan aset tetap ditentukan berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan pada periode tertentu.

Kamu pun penasaran cara menghitung biaya penyusutan dengan menggunakan metode hasil produksi? Simak pembahasanku ini mengenai rumus metode hasil produksi, yaitu:

Nilai Biaya Penyusutan = (Biaya Perolehan – Nilai Residu) : Jumlah Total Produk yang Dihasilkan.

Itulah pembahasan yang bisa kamu ketahui mengenai depresiasi, faktor-faktor, manfaat menghitung penyusutan, hingga cara menghitung biaya penyusutan. Jadi, kamu tak perlu bingung lagi saat ingin menghitung biaya penyusutan aset tetap.

Artikel Lainnya