Apa Perbedaan Bunga Efektif dan Bunga Flat?

Bunga Flat & Bunga Efektif via pxhere.com
Waktu baca: 4 menit

Kamu yang pernah membeli suatu produk dengan metode pembayaran kredit atau cicilan pasti sudah tak asing lagi dengan istilah bunga. Jika biasanya bunga pada tabungan atau investasi mengacu pada jumlah keuntungan yang akan diperoleh, bunga dalam skema pembayaran kredit justru mengharuskan kamu untuk membayar lebih. Nah, dari beberapa jenis bunga di dunia perbankan, dua di antaranya paling sering muncul dalam skema pembayaran kredit, yaitu bunga efektif dan bunga flat.

Sebagai orang yang relatif awam di dunia perbankan, wajar apabila kamu merasa sulit untuk membedakannya. Meski begitu, bukan berarti kamu harus diam saja akan ketidaktahuanmu. Penting bagi kamu untuk mengetahui perbedaan antara bunga efektif dan bunga flat agar nantinya kamu tahu apa yang harus dipersiapkan sebelum terikat dengan suatu perjanjian kredit.

Karakteristik bunga efektif dan bunga flat

Salah satu perbedaan utama antara bunga efektif dan bunga flat terletak pada dasar penghitungannya. Sistem bunga efektif menghitung jumlah bunga berdasarkan pokok utang yang tersisa, bukan pokok pinjaman. Jadi, semakin lama nilai bunga akan berkurang seiring dengan pembayaran yang kamu lakukan untuk pokok utang. Alhasil, walaupun cicilan bulanan yang kamu bayarkan berjumlah sama tiap bulannya, porsi bunga dan pokok dalam cicilan bulananmu akan berbeda.

Karena karakteristiknya tersebut, sistem bunga efektif biasanya lebih banyak diterapkan untuk pinjaman yang tidak harus kamu lunasi secara cepat di tengah jalan. Contohnya seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sebaliknya, sistem bunga flat adalah suku bunga pinjaman yang jumlahnya tidak akan berubah selama masa kredit atau cicilan berlangsung. Dengan begitu, sejak awal masa kredit pun kamu bisa mengukur kemampuan finansial kamu dalam melunasi cicilan. Berbanding terbalik dari bunga efektif yang cocok diaplikasikan pada pinjaman jangka panjang, bunga flat biasanya diterapkan untuk kredit produk konsumsi seperti home appliances, smartphone, atau kredit tanpa agunan (KTA).

Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi pemilihan jenis bunga untuk diterapkan pada pinjaman. Pertama bergantung pada besar pinjaman. Apabila dana yang kamu pinjam tidak terlalu besar, sebaiknya memilih bunga flat yang memiliki suku bunga tetap.

Kedua bergantung pada kemampuanmu. Maksudnya, jika kamu memiliki kemampuan untuk melunasi pinjaman dengan segera maka bunga flat lebih cocok. Ini bertujuan untuk menghindari risiko terdampak kenaikan suku bunga secara tiba-tiba.

Masing-masing kelebihan dan kelemahannya

Baik suku bunga efektif dan flat memiliki masing-masing kelebihan dan kelemahan bagi nasabah seperti kamu. Perlu diketahui bahwa perubahan persentase suku bunga pada sistem efektif sangat dipengaruhi oleh suku bunga yang ada di pasaran.

Di satu sisi, hal ini bisa menguntungkan kamu sebagai nasabah jika nilai suku bunga di pasaran sedang turun. Namun, di sisi lain kamu jadi tidak memiliki kepastian akan jumlah cicilan karena kamu tidak bisa memprediksi fluktuasi suku bunga di pasaran. Karena ketidaktahuan ini, kamu harus berusaha lebih keras untuk menyesuaikannya dengan kondisi finansial.

Nah, apabila dibandingkan dengan bunga flat, menariknya total biaya bunga efektif justru relatif lebih kecil mengingat penghitungannya didasarkan pada sisa utang pokok. Meski begitu, bukan berarti bunga flat tidak memiliki kelebihan. Mengingat suku bunganya yang flat atau tetap, jumlah cicilan yang harus dibayar pun bersifat pasti sejak awal hingga akhir masa kredit. Kamu pun jadi bisa menyisihkan dana secara lebih baik untuk melunasi kredit tersebut.

Selain itu, sistem bunga flat juga umumnya tidak mengenakan biaya penalti yang cukup besar apabila misalnya kamu menyalahi kontrak atau kerja sama. Namun, mengingat sistemnya yang flat, saat terjadi suku bunga di pasaran, kamu jadi tidak bisa ikut menikmati keuntungan dari penurunan tersebut.

Contoh penghitungan

Masih merasa bingung dengan perbedaan antara bunga efektif dan bunga flat? Agar lebih jelas, kamu bisa memperhatikan contoh atau simulasi penghitungan sederhananya berikut ini, ya.

Sistem bunga efektif

Katakanlah kamu mengajukan KPR sebesar Rp480 juta dengan sistem bunga efektif 12% per tahun dan tenor yang berlangsung selama 4 tahun. Artinya, jumlah cicilan pokok per bulannya adalah Rp10 juta (diperoleh dari Rp480 juta dibagi 48 bulan). Maka, berapa bunga efektif yang harus Anda bayarkan tiap bulannya? Sebelum mulai menghitung, perlu kamu ingat lagi bahwa bunga efektif dihitung berdasarkan sisa pokok utang, ya.

  • Bunga pada bulan ke-1: 1% x Rp480 juta = Rp4,8 juta
    Jumlah cicilan yang harus dibayarkan pada bulan ke-1: Rp 14,8 juta
  • Bunga pada bulan ke-2: 1% x Rp470 juta = Rp4,7 juta
    Jumlah cicilan yang harus dibayarkan pada bulan ke-2: Rp14, 7 juta
  • Bunga pada bulan ke-3: 1% x Rp460 juta = Rp4,6 juta
    Jumlah cicilan yang harus dibayarkan pada bulan ke-3: Rp14, 6 juta
  • … dan seterusnya.

Sistem bunga flat

Apabila dibandingkan dari seluruh jenis bunga yang ada di dunia perbankan, sistem bunga flat dikenal yang memiliki penghitungan paling mudah. Berdasarkan penjelasan singkat di atas, kamu tentu sudah tahu kalau pada sistem bunga flat, cicilan per bulan yang harus kamu bayar berjumlah sama. Lalu, bagaimana cara menghitungnya?

Sebagai contoh, kamu baru saja mengajukan pinjaman dana sebesar Rp100 juta dengan tenor sepanjang 2 tahun dan bunga flat 5% per tahun. Maka, penghitungan cicilannya kurang lebih seperti ini:

(Rp100 juta + (Rp100 juta x 5% x 2)) : 24 bulan = Rp4.583.333

Jadi, setiap bulannya kamu harus membayar cicilan sebesar Rp4.583.333.

 

Bunga flat tidak sama dengan bunga fix, ya!

Sekilas, kedua jenis suku bunga ini memang terdengar mirip karena sama-sama bersifat tetap. Yes, baik bunga flat dan fix memang menawarkan suku bunga yang tetap. Namun, apabila sistem bunga flat memungkinkan kamu untuk membayar cicilan bulanan dengan jumlah selalu sama, maka sistem bunga fix hanya memberlakukan aturan tersebut selama jangka waktu tertentu.

Misalnya, ada bank yang menawarkan bunga fix sebesar 8% selama tiga tahun. Artinya, bank hanya akan menerapkan suku bunga 8% tersebut selama tiga tahun awal saja. Setelah melewati tahun ketiga, biasanya bank akan mengikuti kondisi suku bunga di pasaran (floating).

Lalu, mana yang lebih baik di antara bunga efektif dan bunga flat?

Sekilas, sistem bunga flat terlihat cenderung lebih menguntungkan karena jumlah cicilan sejak awal hingga akhir masa tenor selalu sama, tak peduli kondisi suku bunga di pasaran. Kamu pun bisa membuat perkiraan dana sejak awal dan menyesuaikannya dengan kondisi finansial. Namun, perlu diingat bahwa umumnya suku bunga flat relatif lebih besar.

Sedangkan, sistem bunga efektif pun sebenarnya cukup menarik. Dengan penghitungan bunga yang didasarkan dari sisa cicilan, sisa pokok utang pun bisa berkurang lebih cepat. Kalau kamu mampu melunasi lebih awal, pokok utangnya pun jadi lebih kecil. Risikonya adalah tidak adanya kepastian karena jumlah suku bunga sangat bergantung pada kondisi pasar.

Jadi, sebetulnya memang tidak ada yang lebih baik. Keduanya merupakan sistem bunga yang diterapkan sesuai karakteristik masing-masing produk perbankan. Tugas yang harus kamu lakukan adalah selalu membekali diri dengan pengetahuan terkait perbankan agar bisa mengoptimalkan dana yang dipinjam dan membayarnya sesuai kemampuan secara tepat waktu.

***

Sekarang kamu sudah tidak lagi bingung membedakan bunga efektif dan bunga flat, kan? Semoga setelah ini kamu bisa lebih kritis sebelum mengajukan dana atau terlibat skema pembayaran kredit, ya!

You may also like...

Leave a Reply