UKM Center UI, Banyak UMKM yang Takut Naik Kelas

UMKM tidak mau naik kelas.
UMKM tidak mau naik kelas. Photo by Wirabisnis
Waktu baca: 2 menit

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia saat ini memang terbilang sudah banyak. Namun sebagian besar UMKM tersebut merasa takut untuk naik kelas. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh pembina UKM Center UI, Nining I Soesilo dalam acara Sharing Session UMKM Outlook di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Secara psikologis, usaha kecil memang takut untuk naik kelas, apalagi bisa mencapai level Perseroan Terbatas (PT).

“Kami teliti, prioritas pengembangan bisnis UKM, ternyata semakin kecil semakin malas perbesar usaha,” kata Nining, Jumat (14/2/2020).

Dari penelitian yang dilakukan terhadap penerima pinjaman Ultra Mikro (UMi) yang disediakan oleh Kementerian Keuangan, prioritas untuk memperbesar usaha bagi mereka berada di peringkat ke 20. Lalu, penelitian di Bangka Belitung, pelaku usaha menempatkan prioritas memperbesar usaha di peringkat 12. Adapula penelitian di Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), mengembangkan usaha menjadi peringkat 8 dari skala prioritas pengusaha.

UMKM takut naik kelas
Pembicara dalam acara Sharing Session UMKM Outlook. Photo by Klikcair

“Sebanyak 84 persen UMKM takut untuk naik kelas. Hanya sekitar 15 persen saja yang ingin naik kelas,” kata Nining.

Nining juga menjelaskan bahwa ada 3 elemen yang menjadikan pelaku usaha kecil tidak bisa naik kelas yang merupakan hasil penelitian Harvard. Yang pertama, produk yang dijual tidak laku. Hal itu dikarenakan produk-produk yang ada di pasaran banyak produk import. Orang-orang juga lebih memilih produk impor, sehinga ketidakcintaan masyarakat pada produk dalam negeri jadi masalah.

Baca juga: Ingin UMKM Go Internasional, Menkop Gandeng Perusahaan Pemasaran Digital

Kedua, usaha kecil selalu berada di bawah radar pajak. Hal itu dikarenakan pajak adalah hal yang menakutkan bagi para pengusaha tersebut.

“Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun merupakan tipikal negara berkembang. Mereka takut untuk jadi besar atau naik kelas karena studi di Amerika Latin menyebutkan, jika dia jadi formal malah jadi nggak lebih sejahtera,” ujar Nining.

Kendala ketiga ialah akses pembiayaan. Menurut Nining lagi, pembiayaan merupakan kendala paling besar bagi banyak usaha kecil di berbagai negara. Meski begitu, Nining merasa saat ini akses UKM di Indonesia terhadap pembiayaan sudah lebih baik.

Adapun saat ini, kebanyakan prioritas pelaku UMKM masih memenuhi kebutuhan makan dan minum. Banyak pula yang prioritas dari para pengusaha tersebut ialah agar bisa membayar biaya anak sekolah. Itulah beberapa alasan saat ini UMKM di Indonesia takut untuk naik kelas.

You may also like...

Leave a Reply