Apa Itu Break Even Point dan Cara Menghitungnya

Break even point
Apa Itu Break Even Point dan Cara Menghitungnya. Photo by Pexels
Waktu baca: 4 menit

Istilah BEP atau Break Even Point sudah tak asing lagi dalam ilmu ekonomi maupun bisnis. Terkait hal ini, pastinya banyak yang mulai penasaran dengan apa itu break even point? Sebelum terjun dalam dunia investasi, kamu memang harus mengetahui pengertian BEP.

Untuk itulah, pada pembahasan kali ini aku akan mengulas mengenai apa itu break even point ataupun rumus menghitung BEP. Pada intinya kamu akan banyak belajar terkait BEP atau titik impas. Secara umum, BEP ini sering juga disebut sebagai titik balik modal.

Pengertian Break even Point

BEP sering menjadi alat untuk tolak ukur seseorang dalam melakukan investasi maupun dalam memulai bisnis. Lalu apa itu break even point? Banyak yang menganggap BEP sebagai balik modal padahal dalam ilmu akuntansi, balik modal disebut sebagai return of investment.

BEP juga diartikan sebagai suatu titik impas dimana mengacu pada suatu jumlah pendapatan yang dibutuhkan untuk menutup modal biaya yang telah dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu. Biaya ini bisa biaya tetap maupun biaya variabel.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika bisnis seseorang mengalami break even point bisnis tersebut sudah balik modal. Dengan artian modal yang dikeluarkan sudah sebanding dengan keuntungan yang didapatkan. Alhasil perusahaan sudah tidak rugi.

Dasar Analisis Break Even Point

Analisis break even point ialah suatu cara dimana bertujuan mengetahui volume penjualan paling minimum sehingga suatu usaha atau bisnis tidak mengalami kerugian. Namun, bisnis ini juga belum mendapatkan keuntungan sehingga bisa disebut impas atau sama dengan nol.

Asumsi dalam analisa break even point yakni biaya yang terdapat pada banyak tingkat kegiatan bisa diperkirakan jumlahnya dengan tepat. Dengan demikian, apabila terjadi perubahan dari tingkat produksi maka bisa dijabarkan sebagai perubahan tingkat biaya.

Secara lebih khusus, ini dia asumsi dasar ketika melakukan suatu analisis BEP:

  • Keseluruhan jenis biaya akan digolongkan dalam biaya variabel dan biaya tetap
  • Besaran biaya variabel secara menyeluruh bisa berubah secara proporsional sesuai dengan volume penjualan atau volume produksi
  • Besaran biaya tetap secara menyeluruh tidak mengalami perubahan walaupun terjadi perubahan volume penjualan dan volume produksi
  • Harga jual setiap unit tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu periode analisis
  • Perusahaan hanya melakukan produksi atau penjualan terhadap satu jenis barang. Ketika perusahaan memproduksi lebih dari satu jenis produk, maka titik impas penghasilan penjualan pada tiap produk (sales mix) ialah tetap berjalan konstan
  • Kebijakan manajemen atau pengelolaan terkait operasi perusahaan tak mengalami perubahan secara material jika dilihat dalam jangka waktu pendek
  • Kebijakan terkait persediaan barang disebut tetap konstan atau tidak terdapat persediaan sama sekali. Hal ini baik itu persediaan awal maupun persediaan akhir
  • Efisiensi maupun produktivitas tiap karyawan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu pendek.

Itulah beberapa asumsi dasar yang diperlukan dalam melakukan analisis BEP. Dengan asumsi tersebut, maka dapat menjadi dasar bagi kamu sebelum melakukan analisis dari break even point.

Adanya analisis BEP ini tentu saja dilakukan dengan fungsi atau manfaat tertentu. Berikut ini bukan termasuk manfaat analisis break even point yaitu:

  • Perusahan kesulitan dalam penentuan kapasitas produksi demi mencapai keuntungan
  • Perusahaan bisa memperoleh efisiensi operasional perusahaan
  • Perusahaan kesulitan dalam mengetahui perubahan terkait biaya, volume produksi maupun harga jual
  • Tidak adanya kesesuaian jumlah penjualan dengan harga produksi sehingga bisa merugi
  • Perusahaan sulit memperoleh informasi dalam memproses pengambilan keputusan/

Nah, itulah beberapa hal yang bisa terjadi apabila perusahaan tidak menerapkan analisis break even point.

Baca juga: Cara Menghitung Biaya Penyusutan dengan Benar

Komponen Pembentuk Break even Point

Untuk bisa menghitung BEP maka kamu harus kenal lebih dulu empat komponen dari BEP. Yang termasuk dalam komponen pembentuk BEP adalah biaya tetap atau fix cost, biaya variabel atau variabel cost, pendapatan atau revenue, dan laba atau profit.

Berikut penjelasan masing-masing komponen:

1. Biaya Tetap

Biaya tetap yakni suatu biaya dimana wajib dikeluarkan oleh perusahaan walaupun jumlah produksi mengalami perubahan. Contoh biaya tetap BEP yakni gaji karyawan tetap, biaya sewa, dan lainnya.

2. Biaya Variabel

Biaya variabel ialah besaran proporsional yang disesuaikan dengan volume dari produksi. Contohnya seperti biaya bahan baku, BBM, upah lembur dan lainnya.

3. Pendapatan

Yakni suatu total uang yang diperoleh dari hasil penjualan yang dilakukan

4. Laba 

Profit ini ialah selisih dari pengurangan antara total penghasilan dengan biaya variabel serta biaya tetap.

Pada suatu perhitungan akuntansi BEP, maka perhitungan komponen tersebut digunakan untuk mendapatkan persamaan terkait biaya yang dikeluarkan. Khususnya pada proses memproduksi barang  yang sesuai dengan penghasilan yang diperoleh dalam satu periode.

Rumus Break Even Point

Rumus dari BEP sendiri sebenarnya dapat dihitung menggunakan dua metode yakni BEP nominal dalam rupiah ataupun BEP unit. Berikut ialah rumus BEP yang bisa kamu pelajari untuk dapat menghitung BEP.

  • Rumus BEP nominal dalam rupiah yakni total biaya tetap/ (1- biaya variabel pada tiap unit produk/harga jual tiap unit)
  • Rumus BEP unit yakni total biaya tetap/ (harga jual tiap unit produk – biaya variabel untuk tiap unit produk)

Nah, itulah rumus menghitung BEP atau cara mencari BEP. Rumus di atas bisa kamu perhitungkan dengan pertimbangan faktor biaya juga pendapatan. Fungsi BEP sebenarnya cukup vital demi keberlangsungan suatu perusahaan.

Contoh Menghitung Break Even Point 

Agar lebih memahami mengenai apa itu break even point, berikut adalah contoh kasus untuk menghitungnya:

Bu Mima mempunyai toko baju dengan rincian biaya sebagai berikut:

  • Biaya tetap yakni Rp 7.000.000
  • Biaya variabel yakni Rp 300.000
  • Harga jual per unit Rp 500.000

Cara menghitung BEP yakni BEP = biaya tetap/(harga tiap unit – biaya variabel tiap unit).

BEP = 7000.000/ (500.000 – 300.000)

BEP = 35

Dengan demikian, maka Bu Mima bisa mengalami titik impas atau balik modal ketika berhasil menjual unit baju sebanyak 35 potong dalam satu bulan. Bu Mima akan memperoleh keuntungan jika berhasil menjual lebih dari 35 potong.

Baiklah, sampai disini saja pembahasan mengenai apa itu break even point sekaligus cara menghitungnya. Semoga setelah membaca artikel ini, kamu jadi lebih paham mengenai BEP ya!

Artikel Lainnya