FOMO atau JOMO? Kenapa Nggak Ikut Tren Juga Bisa Bikin Bahagia
Pernah merasa harus ikut sesuatu hanya karena semua orang sedang membicarakannya? Teman-teman sudah mencoba tempat makan yang viral, timeline penuh dengan tren terbaru, atau hampir semua orang sedang menggunakan barang yang sama.

Akhirnya, kita ikut juga meskipun sebenarnya nggak terlalu tertarik.Kalau pernah mengalami hal seperti ini, mungkin kamu sedang merasakan FOMO atau Fear of Missing Out. Tapi belakangan ada istilah lain yang juga semakin populer, yaitu JOMO atau Joy of Missing Out. Kalau FOMO membuat kita takut ketinggalan, JOMO justru mengajarkan kita untuk merasa nyaman ketika memilih tidak ikut.
Lalu, mana yang lebih baik?
Apa Itu FOMO?
FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan takut ketinggalan sesuatu yang sedang dilakukan atau dinikmati orang lain.Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.Kamu melihat teman-teman sedang nongkrong di tempat baru. Sebenarnya kamu sedang ingin istirahat di rumah, tetapi akhirnya tetap pergi karena takut merasa tertinggal dari mereka.Atau ketika ada tren baru di media sosial. Awalnya biasa saja, tetapi karena semua orang membicarakannya, kamu merasa harus ikut supaya nggak dianggap ketinggalan zaman.FOMO sendiri bukan sesuatu yang selalu buruk. Rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba hal baru bisa membuat hidup lebih seru.
Masalahnya muncul ketika kita terlalu sering melakukan sesuatu bukan karena memang ingin, tetapi karena takut tertinggal.
Lalu, Apa Itu JOMO?
Berbeda dengan FOMO, JOMO atau Joy of Missing Out adalah perasaan nyaman ketika kita memilih untuk tidak mengikuti sesuatu.
Sederhananya:
“Nggak ikut juga nggak apa-apa.”
Teman-teman pergi nongkrong? Kamu memilih pulang dan istirahat.Ada tren baru? Kamu nggak merasa harus langsung mencobanya.Semua orang sedang membicarakan sesuatu? Kamu tetap santai meskipun nggak ikut dalam percakapannya.JOMO bukan berarti menjadi antisosial atau nggak peduli dengan lingkungan sekitar.
Justru, JOMO lebih tentang menentukan apa yang memang ingin kita lakukan dan apa yang sebenarnya tidak perlu kita ikuti.
Kenapa JOMO Bisa Bikin Hidup Lebih Bahagia?
1. Kamu Jadi Lebih Tahu Apa yang Benar-Benar Kamu Mau
Ketika tidak terus-menerus mengikuti tren, kita punya lebih banyak kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya gue pengin ini karena memang suka atau cuma karena semua orang melakukannya?”
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu kita lebih mengenal diri sendiri.Kita jadi nggak gampang mengikuti sesuatu hanya karena sedang ramai.
2. Nggak Perlu Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat sangat menarik.Teman sedang liburan, orang lain nongkrong di tempat baru, ada yang membeli gadget terbaru, atau seseorang terlihat selalu punya kegiatan seru.Kalau terus membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial, kita bisa merasa hidup kita kurang menarik.JOMO membantu kita berhenti sejenak dari perbandingan tersebut.
Kita mulai sadar bahwa nggak semua hal yang terlihat menyenangkan di kehidupan orang lain harus kita miliki juga.
3. Waktu Jadi Lebih Banyak untuk Diri Sendiri
Tidak mengikuti semua tren atau ajakan juga berarti punya lebih banyak waktu.Daripada memaksakan diri pergi karena takut ketinggalan, kamu bisa menggunakan waktu tersebut untuk melakukan hal yang memang kamu sukai.Nonton film, membaca buku, olahraga, ngopi sendirian, bermain game, atau bahkan tidur lebih awal.
Terdengar sederhana, tapi justru hal-hal seperti ini bisa membuat pikiran lebih tenang.
4. Kamu Nggak Harus Selalu “Update”
Ada kalanya kita merasa harus tahu semuanya.Tren terbaru, tempat makan terbaru, film terbaru, gadget terbaru, sampai drama terbaru di media sosial.Padahal, hidup tetap berjalan meskipun kita tidak mengetahui semuanya.Nggak masalah kalau ada tren yang kamu lewatkan.Nggak masalah kalau kamu baru tahu sesuatu beberapa minggu kemudian.Dan nggak masalah juga kalau ternyata kamu memang nggak tertarik.
Ketinggalan tren bukan berarti ketinggalan hidup.
5. Membantu Menikmati Hidup dengan Cara Sendiri
Pada akhirnya, JOMO mengajarkan kita untuk lebih nyaman dengan pilihan sendiri. Kita nggak harus selalu melakukan apa yang sedang dilakukan orang lain.Kalau teman ingin nongkrong, kamu boleh ikut. Kalau sedang ingin sendiri di rumah, itu juga boleh.Kalau ada tren yang menarik, silakan coba.Kalau nggak tertarik, nggak perlu dipaksakan.
Yang penting adalah kamu tahu alasan di balik pilihan tersebut.
FOMO Bukan Musuh, JOMO Juga Bukan Berarti Menjauh
Sebenarnya kita nggak perlu memilih menjadi orang yang selalu FOMO atau selalu JOMO.
Keduanya bisa muncul dalam situasi yang berbeda.
Ada kalanya kita memang ingin ikut sesuatu karena penasaran dan ingin mendapatkan pengalaman baru. Itu nggak masalah.
Tapi ada juga saatnya kita perlu mengatakan “nggak dulu” tanpa merasa bersalah.
Kuncinya adalah mengenali apakah kita melakukan sesuatu karena memang menginginkannya atau hanya karena takut tertinggal.
Jadi, Kamu Lebih Sering FOMO atau JOMO?
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan media sosial yang selalu menghadirkan tren baru, rasanya memang sulit untuk tidak ikut-ikutan.Tapi sesekali, coba kasih diri sendiri izin untuk melewatkan sesuatu.Nggak ikut nongkrong bukan berarti nggak punya teman.Nggak ikut tren bukan berarti ketinggalan zaman.Dan nggak selalu update bukan berarti hidupmu kurang menarik.
Kadang, bahagia justru datang ketika kita berhenti merasa harus mengikuti semuanya.
Jadi, kalau hari ini kamu memilih untuk bilang “skip dulu deh”, mungkin itu bukan FOMO yang hilang.
Artikel ini disusun oleh KlikCair, perusahaan fintech berizin OJK dengan sistem layanan digital terintegrasi. Sebagai mitra finansial rakyat Indonesia, kami menyediakan akses dana yang transparan. Jangan lewatkan update rutin di Blog KlikCair untuk info yang lagi happening, tren viral terkini, hingga beragam inspirasi gaya hidup yang relevan dengan keseharian Anda.

