5 Kesalahan Mengelola Keuangan yang Sering Dilakukan Pelaku UMKM

Waktu baca: 4 menit

Menjalankan usaha bukan hanya soal menjual produk dan mendapatkan pelanggan. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga perlu memahami cara mengelola keuangan agar bisnis dapat berjalan secara berkelanjutan.

Salah satu tantangan yang sering dihadapi pelaku UMKM adalah menjaga kondisi keuangan usaha tetap sehat. Penjualan bisa terlihat ramai, tetapi uang yang tersedia justru terasa kurang untuk membeli stok, membayar biaya operasional, atau memenuhi kebutuhan bisnis lainnya.

Kondisi tersebut bisa terjadi ketika pengelolaan keuangan belum dilakukan dengan baik. Karena itu, penting untuk mengenali beberapa kesalahan mengelola keuangan UMKM yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha.

1. Mencampur Uang Pribadi dan Uang Usaha

Kesalahan yang cukup umum terjadi adalah menggunakan satu rekening atau tempat penyimpanan uang untuk seluruh kebutuhan, baik pribadi maupun bisnis.

Misalnya, uang hasil penjualan digunakan untuk membayar kebutuhan rumah tangga tanpa mencatat jumlah yang diambil. Akibatnya, pemilik usaha bisa kesulitan mengetahui berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.

Untuk menghindarinya, pisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Pemilik bisnis juga dapat menetapkan jumlah pengambilan uang untuk kebutuhan pribadi secara terencana.

Dengan pemisahan tersebut, pemasukan dan pengeluaran bisnis akan lebih mudah dipantau.

2. Tidak Mencatat Pemasukan dan Pengeluaran

Kesalahan berikutnya adalah tidak mencatat setiap transaksi secara rutin. Sebagian pelaku UMKM mungkin merasa cukup mengandalkan ingatan untuk mengetahui jumlah uang yang masuk dan keluar.

Padahal, transaksi kecil yang terjadi setiap hari dapat terakumulasi menjadi jumlah yang cukup besar. Tanpa pencatatan, pemilik usaha akan kesulitan mengevaluasi biaya operasional dan mengetahui kondisi keuangan bisnis secara menyeluruh.

Mulailah dengan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Pencatatan dapat dilakukan melalui buku kas, spreadsheet, atau aplikasi pencatatan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

Pastikan juga bukti transaksi disimpan agar pencatatan lebih mudah diperiksa kembali.

3. Tidak Memahami Arus Kas Bisnis

Arus kas atau cash flow adalah pergerakan uang masuk dan keluar dari bisnis dalam periode tertentu. Memahami arus kas penting untuk memastikan usaha memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Sebagai contoh, sebuah UMKM menerima banyak pesanan dengan pembayaran tempo. Meskipun nilai penjualan terlihat besar, uang dari pelanggan belum diterima. Sementara itu, biaya bahan baku, gaji karyawan, dan tagihan operasional tetap harus dibayar.

Situasi tersebut dapat menimbulkan kendala jika bisnis tidak memiliki perencanaan arus kas yang baik.

Untuk mengantisipasinya, pelaku UMKM perlu memantau jadwal penerimaan pembayaran, mencatat kewajiban yang harus dibayar, serta memperkirakan kebutuhan dana dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan begitu, pemilik usaha dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi keuangan yang lebih jelas.

4. Tidak Memisahkan Modal, Omzet, dan Keuntungan

Omzet, modal, dan keuntungan merupakan tiga hal yang berbeda. Namun, ketiganya terkadang dianggap sama sehingga uang hasil penjualan langsung digunakan tanpa memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan.

Omzet merupakan total pendapatan dari penjualan sebelum dikurangi biaya. Sementara itu, keuntungan adalah selisih pendapatan dan seluruh biaya yang relevan dalam perhitungan laba.

Sebagai ilustrasi, sebuah usaha memperoleh omzet Rp10 juta dalam satu bulan. Jika total biaya bahan baku, operasional, dan biaya lainnya mencapai Rp8 juta, keuntungan sebelum pajak dan penyesuaian lain adalah Rp2 juta.

Artinya, omzet Rp10 juta tidak berarti seluruh uang tersebut menjadi keuntungan yang bisa digunakan secara bebas.

Pelaku UMKM perlu menghitung biaya secara menyeluruh dan menentukan alokasi dana untuk operasional, pengembangan bisnis, serta kebutuhan lainnya sesuai kondisi usaha.

5. Tidak Menyiapkan Dana Cadangan dan Perencanaan Keuangan

Bisnis dapat menghadapi berbagai kondisi yang sulit diprediksi, seperti penurunan penjualan, kenaikan harga bahan baku, kerusakan peralatan, atau keterlambatan pembayaran dari pelanggan.

Tanpa dana cadangan, pengeluaran tak terduga dapat mengganggu kegiatan operasional. Pemilik usaha mungkin perlu mengurangi stok, menunda pembayaran, atau mencari tambahan dana secara mendadak.

Untuk mengurangi risiko tersebut, buat perencanaan keuangan yang mencakup kebutuhan operasional rutin dan kemungkinan pengeluaran tak terduga. Sisihkan sebagian dana secara bertahap sesuai kemampuan bisnis.

Jumlah dana cadangan dapat disesuaikan dengan karakteristik usaha, besarnya pengeluaran rutin, dan kestabilan pemasukan. Yang terpenting, dana tersebut dikelola secara terpisah dan digunakan sesuai kebutuhan bisnis.

Tips Mengelola Keuangan UMKM agar Lebih Teratur

Setelah memahami kesalahan yang perlu dihindari, pelaku UMKM dapat mulai memperbaiki pengelolaan keuangan melalui langkah sederhana berikut:

  • Buat anggaran usaha. Tentukan perkiraan pemasukan dan pengeluaran untuk setiap periode.
  • Lakukan pencatatan rutin. Catat transaksi secara konsisten agar kondisi keuangan lebih mudah dipantau.
  • Evaluasi keuangan secara berkala. Periksa biaya operasional, keuntungan, dan arus kas untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
  • Prioritaskan kebutuhan bisnis. Bedakan pengeluaran yang penting untuk operasional dengan pengeluaran yang masih bisa ditunda.
  • Rencanakan kebutuhan modal. Hitung kebutuhan dana berdasarkan tujuan penggunaan, kemampuan keuangan, serta potensi risiko usaha.

Langkah-langkah tersebut dapat membantu pelaku UMKM mengambil keputusan bisnis secara lebih terukur.

Kesimpulan

Mengelola keuangan merupakan bagian penting dalam menjalankan usaha. Kesalahan seperti mencampur uang pribadi dan bisnis, tidak mencatat transaksi, mengabaikan arus kas, salah memahami keuntungan, serta tidak menyiapkan dana cadangan dapat menyulitkan pemilik usaha dalam memantau kondisi bisnis.

Dengan menerapkan pencatatan yang konsisten dan perencanaan keuangan yang sesuai kebutuhan, pelaku UMKM dapat memahami kondisi usahanya dengan lebih baik dan mempersiapkan langkah pengembangan bisnis secara lebih terarah.

Ingat, usaha yang berkembang tidak hanya membutuhkan penjualan, tetapi juga pengelolaan keuangan yang baik. Mulailah dari langkah sederhana dan lakukan secara konsisten agar keuangan usaha lebih terkontrol.

Artikel ini disusun oleh KlikCair, perusahaan fintech berizin OJK dengan sistem layanan digital terintegrasi. Sebagai mitra finansial rakyat Indonesia, kami menyediakan akses dana yang transparan. Jangan lewatkan update rutin di Blog KlikCair untuk info yang lagi happening, tren viral terkini, hingga beragam inspirasi gaya hidup yang relevan dengan keseharian Anda.

Mungkin Anda juga menyukai