4 Penyebab Inflasi di Indonesia yang Perlu Diketahui

Penyebab inflasi di Indonesia.
Penyebab inflasi di Indonesia. Photo by Kumparan
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Waktu baca: 3 menit

Inflasi kerap terjadi setiap tahun di Indonesia. Penyebab inflasi di Indonesia cukup beragam. Inflasi sendiri dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa, pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Jika harga barang dan jasa meningkat maka inflasi juga mengalami kenaikan.

Dengan naiknya harga barang dan jasa itu menyebabkan nilai uang turun. Kenaikan harga secara terus menerus ini dapat membuat daya beli masyarakat menurun. Gaji atau penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai contoh, saat kamu bisa makan 3 kali sehari dengan uang Rp 45.000, karena inflasi naik, kamu hanya dapat makan 2 kali saja dengan nominal uang yang sama.

Jika daya beli masyarakat turun karena inflasi, maka efeknya bisa merembet ke pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena konsumsi masyarakat ikut merosot karena harga barang atau jasa mengalami kenaikan. Padahal, konsumsi merupakan salah satu hal penting untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah terus berupaya mengendalikan laju inflasi lewat berbagai kebijakan.

Setelah mengetahui penjelasan inflasi di atas, di bawah ini akan dijelaskan penyebab inflasi yang terjadi di Indonesia.

Kebutuhan atau permintaan masyarakat meningkat

kebutuhan meningkat jadi penyebab inflasi di Indonesia.
Kebutuhan masyarakat meningkat. Photo by @whynottogoforit

Saat suatu barang mengalami peningkatan dalam permintaan atau demand, maka sudah pasti itu menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi. Apalagi jika saat permintaan naik, namun stok atau suplai terbatas, maka pasti akan terjadi lonjakan harga. Contohnya, saat harga cabai rawit merah sempat menembus Rp 120 ribu per kg. Faktor penyebabnya karena stok terbatas akibat gangguan cuaca.

Namun, senaik apapun harga cabai rawit merah, masyarakat tetap membutuhkannya untuk bumbu masak. Jadi, permintaan tetap tinggi. Orang-orang mulai memborong cabai rawit merah karena khawatir barang semakin langka dan harganya tidak terkendali. Itulah yang menyebabkan inflasi naik tinggi.

Permintaan meningkat tidak hanya terjadi pada bahan makanan saja, namun bisa juga terjadi pada barang atau jasa lain. Misalnya ialah bahan bakar minyak (BBM), tabung gas, dan masih banyak lainnya. Sebab, Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung inflasi dari 7 kelompong pengeluaran masyarakat.

Kelompok tersebut antara lain:

  • Kelompok bahan makanan;
  • Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau;
  • Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar;
  • Kelompok sandang;
  • Kelompok kesehatan;
  • Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga;
  • Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat

Jumlah uang beredar bertambah banyak.
Jumlah uang beredar bertambah banyak. Photo by Pixabay

Mungkin ada yang berpikir jika Bank Indonesia mencetak uang yang banyak, utang negara bisa selesai dan masyarakat juga akan makmur. Padahal jika hal itu terjadi maka ekonomi negara akan terganggu karena mencetak dan mengedarkan uang melebihi kebutuhan.

Awalnya hanya berimbas pada kenaikan inflasi. Lama kelamaan mencetak dan mengedarkan uang terlalu banyak bisa berdampak pada kenaikan harga barang. Kenaikan harga ini berarti inflasi dan yang menjadi korbannya ialah masyarakat, terutama orang-orang yang tidak mampu.

Harga sewa rumah meningkat

Harga sewa rumah meningkat.
Harga sewa rumah meningkat. Photo by Dekoruma

Naiknya harga sewa rumah bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi di Indonesia. Kenaikan harga sewa rumah ini masuk dalam kelompok pengeluaran sandang. Setiap tahunnya, pemilik kos atau kontrakan pasti akan menaikkan tarif sewa kos atau kontrakannya.

Contohnya, pada 1990 harga sewa kos lengkap dengan fasilitas berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, saat memasuki tahun 2000-an, uang segitu hanya bisa mendapatkan kos kosongan atau hanya ada fasilitas kasur dan lemari saja. Untuk listrik bayar sendiri. Jika ingin mendapatkan fasilitas tambahan seperti kamar mandi dalam dan AC, kamu harus merogoh dompet hingga Rp 2 jutaan.

Biaya-biaya meningkat

Biaya-biaya kebutuhan meningkat.
Biaya-biaya kebutuhan meningkat. Photo by Pixabay

Faktor penyebab inflasi selanjutnya ialah naiknya biaya-biaya seperti SPP atau biaya sekolah, biaya listrik, biaya rumah sakit, biaya produksi barang dan jasa, serta masih banyak biaya lainnya. Biaya ini akan dibebankan kepada konsumen. Dari kenaikan biaya tersebut, harga bahan baku maupun upah kerja harus meningkat sehingga produsen akan mengerek harga jual barang atau jasa yang mereka sediakan.

Itulah beberapa penyebab inflasi di Indonesia yang perlu diketahui. Memang, masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat yang konsumtif. Inilah yang jadi konsekuensi terjadinya inflasi.

Baca juga: Ingin Lebih Hemat? Ikuti Cara Atur Keuangan Ala Jepang

Maka dari itu, kita sebagai warga negara dapat berperan aktif mengendalikan inflasi dengan melakukan konsumsi atau belanja sesuai kebutuhan saja. Sebaiknya, rutin menyusun daftar pendapatan serta pengeluaran setiap bulannya sehingga pengeluaran bisa terkontrol dengan baik.


Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

You may also like...