Mengetahui Pengertian, Resiko, Kriteria Hingga Rumus Menghitung NPL

kalkulator
Mengetahui Pengertian, Resiko, Kriteria Hingga Rumus Menghitung NPL. Photo by Pixabay
Waktu baca: 4 menit

Non Performing Loan atau NPL adalah istilah di bidang keuangan yang mungkin masih asing di telinga banyak orang. Namun di era pandemi yang menyebabkan beragam permasalahan ekonomi saat ini, NPL menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas karena menjadi salah satu indikator kondisi kesehatan aset pada sebuah bank atau lembaga keuangan lainnya.

Lalu sebetulnya apa itu NPL dan bagaimana resikonya bagi dunia perbankan?. Simak penjelasannya lengkapnya berikut ini. 

Sekilas Tentang Non Performing Loan

Non Performing Loan adalah kondisi pinjaman dimana debitur tidak bisa melakukan pembayaran pokok atau bunga sesuai jangka waktu yang telah dijadwalkan, istilah NPL juga dikenal sebagai kredit macet atau bermasalah.

Semakin rendah tingkat rasio NPL sebuah lembaga atau jasa keuangan maka semakin rendah pula tingkat kredit macet yang terjadi, Begitu pula sebaliknya, semakin tinggi tingkat rasio NPL sebuah bank maka akan semakin besar pula risiko kredit macetnya. 

Faktor Penyebab Terjadinya NPL

Penyebab tingginya nilai NPL umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Krisis Keuangan Global

Krisis ini membuat para pelaku bisnis mengalami kesulitan dalam mempertahankan pasar sehingga berdampak pada penurunan kemampuan dalam membayar cicilan pinjaman.

  1. Pihak Bank Kurang Teliti Dalam Memilih Calon Debitur

Kurangnya ketelitian pihak bank dalam memilih calon debitur juga berpotensi meningkatkan rasio NPL. Pihak bank seharusnya melakukan proses verifikasi yang rinci dan komprehensif sehingga nasabah yang dipilih merupakan calon debitur dengan perilaku keuangan yang baik

  1. Kebijakan Bank Dalam Mempertahankan Suku Bunga

Tingginya nilai suku bunga bank membuat beban angsuran pinjaman debitur mengalami peningkatan.

Selain ketiga faktor di atas Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter juga memiliki tanggung jawab terhadap tingkat rasio NPL. Karena beberapa kebijakan BI untuk melakukan relaksasi penyaluran kredit seperti penentuan kualitas agunan debitur memberikan efek terhadap meningkatnya nilai NPL. 

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Suku Bunga Pinjaman

Risiko NPL Tinggi Pada Sebuah Lembaga Keuangan 

NPL dengan nilai yang tinggi akan mengakibatkan lembaga keuangan seperti bank mengalami kerugian karena bank tidak dapat menerima kembali dana yang sudah disalurkan kepada debitur begitupun dengan bunganya. Hal ini tentu akan berdampak pada berkurangnya pendapatan atau modal sebuah bank. Apabila hal itu terjadi maka penyaluran jumlah kredit untuk periode berikutnya pun akan mengalami kendala.

Selain itu secara likuiditas, meningkatnya nilai NPL yang tidak bisa diatasi secara cepat akan menyebabkan pihak bank berusaha untuk meminimalisir kerugian dengan mengurangi jumlah pegawai yang bekerja. 

Masalah ini otomatis akan memberikan dampak negatif bagi perekonomian nasional, karena sumber permodalan yang berkontribusi pada berkembangnya pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. 

Artikel Lainnya